Rangka praktikal
Mengapa Kita Memerlukan Fiqh?
Kita memerlukan fiqh kerana manusia bukan sekadar jasad material mahupun roh abstrak semata-mata; melainkan makhluk barzakhiyyah yang memerlukan syariah untuk mengatur lahir dan batinnya, dan mengubah amalan harian menjadi jalan penzahidan nafs dan mendekati Allah.
Mengapa Kita Membutuhkan Fiqh?
Pembacaan-pembacaan kontemporer pemikiran agama berayun antara berlebihan dan kekurangan; sementara satu arah cenderung mengosongkan agama dari dimensi ghaibnya dan mengubahnya menjadi sekadar sistem sipil atau pedoman kesehatan, arah lain mengasingkan diri secara mutlak dan memisahkan agama dari realitas kehidupan material.
Namun pandangan Islam yang asli, yang dirumuskan oleh mazhab Falsafah TransendenFalsafah Transenden — sebutan ‘al-HIK-ma al-mu-ta-AA-li-ya’ — الحكمة المتعالية Falsafah Transenden ialah mazhab falsafah Mulla Sadra yang menggabungkan falsafah rasional, teologi Qurani, dan wawasan rohani; terutama dikenali melalui keutamaan wujud dan gerak zat. serta para filsuf dan ahli suluk, menjadi saksi atas kedalaman unik yang memandang syariahsyariah — sebutan ‘sha-REE-ah’ — الشريعة Syariah ialah jalan wahyu ibadah, undang-undang, etika dan bimbingan praktikal dalam Islam; bukan hanya undang-undang jenayah, tetapi juga solat, keluarga, keadilan sosial, etika perniagaan, kesucian dan cara hidup di hadapan Tuhan. sebagai penghubung konstitutif antara dunia materi dan dunia makna. Manusia bukan jasad kaku, dan bukan malaikat abstrak, melainkan hakikat barzakh yang menggabungkan tanah dan nafas ilahi; dari sinilah fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial. menjadi keniscayaan ontologis untuk mengatur gerak makhluk komposit ini.
1. Falsafah kebutuhan fiqh dan peran syariat
Kebutuhan akan fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial. lahir dari kebutuhan manusia akan bimbingan dalam gerak integratifnya. Hukum-hukum konvensional pada tujuan utamanya mengatur jalinan sosial dan mencegah ketidakadilan material, tetapi fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial. Islam memandang tindakan manusia sebagai sesuatu yang meluas ke wilayah di balik alam.
Kita membutuhkan fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial. kerana akal manusia, walaupun mengenali universal keadilan dan kebaikan, tidak mampu mengetahui akibat-akibat ghaib dan konstitutif yang mengikuti rincian-rincian perbuatan.
syariahsyariah — sebutan ‘sha-REE-ah’ — الشريعة Syariah ialah jalan wahyu ibadah, undang-undang, etika dan bimbingan praktikal dalam Islam; bukan hanya undang-undang jenayah, tetapi juga solat, keluarga, keadilan sosial, etika perniagaan, kesucian dan cara hidup di hadapan Tuhan. di sini tidak datang untuk memaksakan batasan konvensional semu, melainkan menetapkan rekayasa perilaku yang menjamin tidak adanya benturan antara gerak material manusia dengan jalannya yang rohani, supaya yang biasa dan sehari-hari berubah menjadi sarana hubungan dengan Yang Mutlak.
2. Kelengkapan hukum dan hubungan materi dengan roh
Kerana manusia komposit dari materi dan roh, setiap pengaruh yang menimpa salah satunya pasti berbalik pada yang lain; ada keselarasan dan keterkaitan penuh antara lahir dan batin. Hukum-hukum syar’i tidak datang demi tubuh semata, dan tidak demi roh semata, melainkan untuk mengatur campuran manusia ini.
Ketaatan pada hukum fiqh di dunia materi memiliki manifestasi langsung dan dampak langsung di dunia roh. Lahir yang baik melahirkan batin yang bercahaya, dan kekurangan dalam ketaatan hukum lahiriah menghasilkan kegelapan dan penyakit dalam jiwa.
syariahsyariah — sebutan ‘sha-REE-ah’ — الشريعة Syariah ialah jalan wahyu ibadah, undang-undang, etika dan bimbingan praktikal dalam Islam; bukan hanya undang-undang jenayah, tetapi juga solat, keluarga, keadilan sosial, etika perniagaan, kesucian dan cara hidup di hadapan Tuhan. pada kedalamannya adalah hakikat bermuka ganda: satu wajah menghadap dunia alam dan indra, iaitu fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial. dan amal; dan wajah menghadap dunia malakut dan ketajaman, iaitu tazkiyah dan kedekatan.
3. Masyarakat syariat sebagai inkubator kemajuan rohani
Sistem fiqh tidak bertujuan sekadar membangun masyarakat yang stabil secara material atau sejahtera secara ekonomi sebagai tujuan akhir, melainkan tujuan tertinggi syariat adalah mendirikan lingkungan yang layak yang mempersiapkan manusia untuk kehidupan hakiki yang akan datang.
Masyarakat dalam pandangan tauhid adalah inkubator penyempurnaan. Hubungan sosial, sistem ekonomi yang berpijak pada keadilan, dan hudud fiqh, semuanya merupakan persiapan iklim umum. Ketika keadilan mantap dan ketidakadilan surut berkat penerapan syariat, hati dan akal manusia terbebas untuk beralih kepada pilar-pilar kemajuan rohani dan pembinaan jiwa, sehingga dunia mengasuh gerak manusia menuju akhirat tanpa terbelah.
4. Tujuan malakuti fiqh: sistem konstitusi, bukan nilai sekolah
Ketika pemikiran agama biasa mengajukan persoalan pahala dan dosa, sering pikiran mengarah pada pembacaan sederhana yang menyerupai sistem nilai sekolah. Sebagian membayangkan orang yang berkewajiban sebagai murid di ruang ujian, dengan guru di atas kepalanya memberi poin positif setiap kali ia taat, dan mencatat poin negatif setiap kali ia salah, lalu pada akhirnya poin-poin ini dijumlahkan secara aritmatika untuk menentukan hasil.
Pandangan ini, walaupun layak sebagai sistem motivasi prosedural untuk mendorong orang awam, tidak mencerminkan hakikat tujuan fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial.. Sistem pahala dan hukuman bukan sistem konvensional kering, melainkan sistem konstitutif dan ontologis yang langsung terkait dengan pembentukan roh dan kemajuannya atau kemundurannya.
Kesalahan terbesar adalah meyakini bahawa roh manusia tetap pada derajat ontologisnya, sementara saldo pahala dan dosanya naik atau turun secara paralel dalam catatan eksternal. Hakikatnya adalah setiap hukum yang dipatuhi atau dilanggar manusia langsung mengubah hakikat rohnya:
- Dalam sisi ketaatan: ibadah fiqh bukan gerakan fisik yang dibeli dengan poin, melainkan proses penyucian dan peninggian roh. Dengan setiap ketaatan, roh naik satu derajat dalam tangga wujud, dan disinari untuk memahami hakikat-hakikat malakut ghaib yang belum pernah ia sadari sebelumnya.
- Dalam sisi maksiat: dosa bukan sekadar pelanggaran hukum yang mengurangi poin, melainkan racun yang ditelan roh, yang mengakibatkan pemalsuan batin dan keruh cerminnya sehingga ia turun dalam derajat ontologisnya dan kehilangan kemampuan mengenali kebenaran dan keindahan.
5. Kelemahan pembacaan material sempit terhadap hukum
Salah satu fenomena yang lazim adalah sebagian penyelidik, dengan dorongan antusiasme dan upaya mendekatkan agama kepada kaum materialis, mereduksi hukum-hukum syar’i dan menafsirkannya secara utilitarian kesehatan atau biologis semata. Pembacaan ini mengosongkan syariat dari inti ibadahnya dan menjadikannya tunduk pada ilmu eksperimen yang berubah-ubah.
Persamaan taharah dan wudhu
Ketika wudhu ditafsirkan sebagai sekadar proses kebersihan dan pengaktifan sirkulasi darah, inti malakuti urusan ini terabaikan. Kebersihan material tercapai dengan desinfektan modern, bahkan wudhu gugur dalam kondisi tidak ada air dan diganti tayamum dengan tanah, yang membuktikan bahawa tujuannya adalah taharah maknawi dan bercahaya yang mempersiapkan untuk berdiri di hadirat Hakikat.
Illah larangan dan pengaruh konstitutif makanan
Pengulangan nada bahawa haramnya daging babi atau darah datang kerana adanya kuman dan parasit adalah reduksi yang sempit; sebab jika illah terbatas pada dimensi material, haramnya lenyap begitu sahaja dengan perkembangan alat sterilisasi modern.
Para ahli suluk dan ahli tasawuf berpendapat bahawa makanan memiliki pengaruh konvensional konstitutif langsung; sesuap haram atau syubhat melahirkan kegelapan batin yang menghalangi jiwa dari taufik, melahirkan kekerasan hati, dan membebani anggota tubuh dalam ibadah. Haram berkisar pada mafsadat batin dan pengaruh ghaib yang merusak hakikat jiwa dan melahirkan sifat-sifat kebinatangan yang tercermin pada perilaku maknawi manusia.
6. Bukti Qur’ani atas pengaruh konstitutif amal
Istidlal dengan Al-QuranAl-Quran — sebutan ‘al-Qur'an’ — القرآن Al-Quran ialah kitab suci utama Islam. Muslim meyakininya sebagai firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad (SAW), dan sumber utama akidah, ibadah, hukum, etika, dan bimbingan rohani. adalah landasan utama yang menjadi titik tolak para filsuf dan ahli suluk untuk membuktikan bahawa amal berubah menjadi hakikat nyata yang menyatu dengan hakikat roh manusia dan membentuk mahiyyahnya.
Penjelmaan amal dengan sendirinya
Firman-Nya:
“Pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) dari kebajikan yang telah diamalkannya; yang siap dihadapkan, dan apa yang telah diamalkan dari kejelekan.” [Ali Imran: 30]
Amal itu sendiri hadir dengan sendirinya dan pada hakikatnya, baik atau buruk.
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya.” [An-Nisa: 10]
Sesuap haram pada batin dan hakikat malakutinya adalah api yang membakar roh sejak saat pertama.
Perubahan batin dan pemalsuan
Firman-Nya:
“Sekali-kali tidak! Bahkan, karat yang menutupi hati mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka usahakan.” [Al-Muthaffifin: 14]
Ran adalah karat dan perubahan konstitutif yang menimpa cermin jiwa akibat amal buruk.
Tentang pemalsuan batin firman-Nya:
“Lalu Kami katakan (kepada mereka): ‘Jadilah kamu kera, hina!’” [Al-Baqarah: 65]
Kegigihan pada perilaku kebinatangan memalsukan hakikat dzat secara batin, dan berdasarkan malakah-malakah inilah manusia dihimpun.
Kenaikan ontologis dan pemahaman hakikat
Firman-Nya:
“Kepada-Nya naik (diterima) kalimat-kalimat yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (pula).” [Fatir: 10]
Amal saleh adalah penggerak konstitutif yang mengangkat roh dalam maqam-maqam ontologis untuk melampaui dunia materi.
Dan firman-Nya:
“Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan yang benar dan yang salah).” [Al-Anfal: 29]
Taqwa dan ketaatan fiqh melahirkan pandangan dan kekuatan persepsi maknawi.
7. Pandangan Falsafah Transenden dan filsuf Syiah
Mazhab Falsafah TransendenFalsafah Transenden — sebutan ‘al-HIK-ma al-mu-ta-AA-li-ya’ — الحكمة المتعالية Falsafah Transenden ialah mazhab falsafah Mulla Sadra yang menggabungkan falsafah rasional, teologi Qurani, dan wawasan rohani; terutama dikenali melalui keutamaan wujud dan gerak zat. di bawah kepemimpinan Sadr al-Muta’allihin asy-Syirazi, Mulla Sadra (979–1050 H / 1571–1640 M), menyajikan rumusan argumentatif kokoh yang menjelaskan peran syariat dan pengaruh amal terhadap tazkiyah nafs, berdasarkan asas-asas falsafah yang inovatif.
Gerak substansial dan intensifikasi roh
Roh manusia bukan dzat yang tetap, melainkan dalam gerak intensifikasi berkelanjutan yang bermula dari materi dan naik menuju ketajaman rohani yang sempurna. Dalam gerak ini, amal-amal syar’i dan ketaatan fiqh merupakan bahan persiapan dan bahan bakar yang dibantu jiwa untuk kemajuan dan intensifikasi ontologis.
Penyatuan jiwa dengan gambar-gambar perbuatannya
Amal tidak lenyap, melainkan dengan pengulangannya berubah menjadi malakah dan gambar-gambar batin yang menyatu dengan hakikat jiwa dan membentuk hakikatnya. Manusia tidak dihukum dengan sesuatu di luar dirinya, melainkan dihukum dengan hakikat apa yang telah dibuatnya dan menjadi hakikat dirinya.
Syariat adalah akal yang lahir
syariahsyariah — sebutan ‘sha-REE-ah’ — الشريعة Syariah ialah jalan wahyu ibadah, undang-undang, etika dan bimbingan praktikal dalam Islam; bukan hanya undang-undang jenayah, tetapi juga solat, keluarga, keadilan sosial, etika perniagaan, kesucian dan cara hidup di hadapan Tuhan. dan akal adalah kembar yang bersumber dari satu misykat. Kerana itu, mustahil mencapai tazkiyah hakiki atau kasyaf suluk yang benar tanpa melalui pintu fiqhfiqh — sebutan ‘fik-h’ — الفقه Fiqh ialah kajian teratur untuk menggali hukum agama praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang yang diiktiraf; merangkumi ibadah, kesucian, keluarga, transaksi dan tanggung jawab sosial. dan syariat lahir; sebab taharah fiqh dan ketaatan pada hukum-hukum praktis adalah dasar konstitutif dan landasan kokoh bagi taharah akal dan penerangan roh.
8. Rekayasa sistem praktis: pintu-pintu fiqh
Agar syariat menjalankan peran persiapannya, perbuatan orang yang berkewajiban dibagi ke dalam pintu-pintu utama, masing-masing bertanggung jawab membentuk satu dimensi ontologis:
- Ibadah, seperti salat, puasa, dan haji: berkaitan dengan hubungan langsung hamba dengan Hakikat Mutlak, dan tujuannya penyucian roh serta ketajaman jiwa dari keterikatan materi.
- Aqd, seperti jual beli dan nikah: mengatur hubungan interaktif berdasarkan persetujuan, dan tujuannya meluaskan keadilan serta menjaga hak supaya masyarakat terbebas untuk kemajuan maknawi.
- Iqa’, seperti talak dan pembebasan budak: tindakan yang terjadi dengan kehendak tunggal, dan tujuannya mengatur kewajiban dan tanggung jawab individual.
- Ahkam, seperti diat, peradilan, dan hudud: syariat umum untuk melindungi ketertiban publik, dan tujuannya mencegah pelanggar serta menyucikan masyarakat dari mafsadat konstitutif yang dilahirkan kejahatan.
9. Gerakan ilmiah dan sistem kekhususan: ijtihad dan taqlid
Ketika manusia yang tidak berkeahlian tidak mampu mengekstrak hukum-hukum konstitutif ini dari sumber aslinya, muncul sistem kekhususan rasional yang menjadi dasar seluruh urusan kehidupan.
ijtihad dan istinbath
ijtihadijtihad — sebutan ‘ij-ti-HAAD’ — الاجتهاد Ijtihad ialah penaakulan ilmiah teratur untuk menggali hukum praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang mapan; bukan improvisasi peribadi, memerlukan latihan mendalam dalam bahasa, teologi, undang-undang dan metodologi. adalah pengeluaran usaha ilmiah khusus untuk mengekstrak hukum-hukum syar’i dari dalil-dalil yang sahih: kitab, sunnah, akal, dan ijma’.
marja' dan taqlid
marja'marja' — sebutan ‘MAR-ja’ — المرجع Dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, marja' ialah faqih yang sangat berkelayakan yang boleh dirujuk oleh orang beriman tentang hukum agama praktikal; pejabatnya menjawab soalan dan menerbitkan panduan undang-undang. adalah faqih yang memenuhi syarat dan memiliki malakah istinbath, dan taqlid adalah rujukan orang yang tidak berkeahlian kepada ahli kekhususan, seperti rujukan pasien kepada dokter terpercaya, untuk menjamin pengaruh konstitutif yang benar dari amal.
Jalur ilmiah di hawzah
Mencapai derajat kemampuan istinbath melewati jalur studi ketat di dalam hawzah ilmiah yang terbagi menjadi tiga tingkat utama:
- Muqaddimat: studi ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan mantiq, untuk memahami naskah agama dengan ketepatan.
- Sath: studi kitab-kitab istidlal tinggi dalam fiqh dan ushul fiqh, seperti Kifayatul Ushul dan Al-Makasib, untuk mempelajari cara menerapkan kaidah dan dalil.
- Dars Kharij: tingkat tertinggi, di mana guru mengajukan masalah fiqh dan dalilnya tanpa terikat kitab tertentu, dan membahas pendapat para ulama besar untuk melatih murid dalam kritik dan penghakiman ilmiah sehingga murid mencapai tahap ijtihadijtihad — sebutan ‘ij-ti-HAAD’ — الاجتهاد Ijtihad ialah penaakulan ilmiah teratur untuk menggali hukum praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang mapan; bukan improvisasi peribadi, memerlukan latihan mendalam dalam bahasa, teologi, undang-undang dan metodologi..
Jika faqih mencapai derajat ijtihadijtihad — sebutan ‘ij-ti-HAAD’ — الاجتهاد Ijtihad ialah penaakulan ilmiah teratur untuk menggali hukum praktikal daripada Al-Qur'an, Sunnah, akal dan prinsip undang-undang mapan; bukan improvisasi peribadi, memerlukan latihan mendalam dalam bahasa, teologi, undang-undang dan metodologi., dan disaksikan oleh para ahli tentang keilmuan, serta memperoleh ‘adalah dan wara’ sempurna, ia menjadi marja'marja' — sebutan ‘MAR-ja’ — المرجع Dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, marja' ialah faqih yang sangat berkelayakan yang boleh dirujuk oleh orang beriman tentang hukum agama praktikal; pejabatnya menjawab soalan dan menerbitkan panduan undang-undang. yang dirujuk orang.
10. Taklif pada masa okultasi dan keselarasan epistemologis
Sebagian orang mungkin bertanya tentang sejauh mana keselarasan antara asas aqidah tentang keniscayaan adanya kepemimpinan maksum yang ditetapkan TuhanTuhan — sebutan ‘al-LAH’ — الله Allah bermaksud Tuhan; bukan nama tuhan yang berbeza. Muslim menggunakan kata Arab ini untuk Tuhan Yang Esa; Kristian dan Yahudi berbahasa Arab juga memakainya apabila berbicara tentang Tuhan., dengan realitas praktis yang diwakili oleh rujukan kepada para faqih yang tidak maksum pada masa okultasi.
Penyelidikan historis dan metodologis mengungkap keselarasan penuh dan pengikatan erat, yang tampak dalam dua poin.
Penyempurnaan bangunan syariat secara historis
Okultasi Imam Imam al-Mahdi (AS)Imam al-Mahdi (AS) — sebutan ‘al-MAH-dee’ — المهدي (ع) Imam al-Mahdi (AS) — Imam kedua belas dan terakhir dalam tradisi Syiah, dipercayai dalam ghaibah dan dinantikan sebagai penegak keadilan di seluruh bumi. (aj) tidak dimulai pada fase dini atau sensitif dalam sejarah Islam sebelum garis besar agama jelas, melainkan datang selepas lebih dari dua setengah abad, sekitar 260 tahun, dari kehadiran dan perpanjangan langsung Nabi (SAWSAW — sebutan ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan salawat ke atas Nabi Muhammad (SAW) dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai selepas menyebut namanya sebagai tanda hormat dan taat kepada perintah al-Quran.) dan para Imam suci (ASAS — sebutan ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam. Digunakan selepas menyebut para nabi, Imam, Sayyidah Fatimah dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Selama masa panjang ini, kaidah-kaidah umum dan parsial diperjelas, maksud Al-QuranAl-Quran — sebutan ‘al-Qur'an’ — القرآن Al-Quran ialah kitab suci utama Islam. Muslim meyakininya sebagai firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad (SAW), dan sumber utama akidah, ibadah, hukum, etika, dan bimbingan rohani. dijelaskan, dan warisan riwayat serta syariat disempurnakan sepenuhnya.
Berdasarkan ini, peran faqih hari ini bukan untuk menutup kekurangan atau menciptakan hukum dari dirinya sendiri, melainkan datang ketika syariat sudah lengkap ruangnya, jelas garis-garisnya, dan terjaga dalam warisan para maksum (ASAS — sebutan ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam. Digunakan selepas menyebut para nabi, Imam, Sayyidah Fatimah dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
Istinbath yang terkendali naskah, bukan syariat dengan pendapat
marja'marja' — sebutan ‘MAR-ja’ — المرجع Dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, marja' ialah faqih yang sangat berkelayakan yang boleh dirujuk oleh orang beriman tentang hukum agama praktikal; pejabatnya menjawab soalan dan menerbitkan panduan undang-undang. tidak memiliki wewenang syariat mandiri, tidak menghalalkan dan tidak mengharamkan dari dirinya sendiri, dan tidak menafsirkan Al-QuranAl-Quran — sebutan ‘al-Qur'an’ — القرآن Al-Quran ialah kitab suci utama Islam. Muslim meyakininya sebagai firman Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad (SAW), dan sumber utama akidah, ibadah, hukum, etika, dan bimbingan rohani. dengan pendapat pribadinya, melainkan menafsirkannya dan mengekstrak hukum-hukum praktis darinya dengan bersandar pada ushul, kaidah, dan riwayat-riwayat hadis keluarga Nabikeluarga Nabi — sebutan ‘Ahl al-Bayt’ — أهل البيت (ع) Secara harfiah bermaksud 'orang rumah'. Di laman ini, menurut pemahaman Syiah, istilah ini merujuk khususnya kepada Empat Belas Ma'sum (AS): Nabi Muhammad (SAW), Sayyidah Fatimah (AS), Imam Ali (AS), Imam Hasan (AS), Imam Husayn (AS), dan sembilan Imam suci keturunan Imam Husayn hingga Imam al-Mahdi (AS). (ASAS — sebutan ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam. Digunakan selepas menyebut para nabi, Imam, Sayyidah Fatimah dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Usaha intelektualnya terbatas pada istinbath; iaitu menggunakan kaidah-kaidah ilmiah ketat yang ditetapkan para Imam (ASAS — sebutan ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam. Digunakan selepas menyebut para nabi, Imam, Sayyidah Fatimah dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) sendiri untuk memahami dalil naskah. Ia tidak berijtihad berhadapan dengan naskah, melainkan bergerak sepenuhnya di dalam medan epistemologis dan syar’i yang digariskan keturunan suci (ASAS — sebutan ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam. Digunakan selepas menyebut para nabi, Imam, Sayyidah Fatimah dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
marja'marja' — sebutan ‘MAR-ja’ — المرجع Dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, marja' ialah faqih yang sangat berkelayakan yang boleh dirujuk oleh orang beriman tentang hukum agama praktikal; pejabatnya menjawab soalan dan menerbitkan panduan undang-undang. bukan pengganti Imam maksum (aj), melainkan perpanjangan sistematis dan kelembagaan yang mengungkap hukum-hukum dan warisannya; okultasinya (aj) adalah okultasi gelar, bukan okultasi wujud; ia seperti matahari yang bercahaya di balik awan, mengatur urusan umat secara konstitutif dan rohani, dan telah memerintahkan kita untuk merujuk kepada para faqih dalam peristiwa yang terjadi sebagai penjaga syariatnya.
Berdasarkan itu, kewajiban epistemologis dan praktis kita pada masa okultasi adalah penyelidikan individual dan rujukan kepada faqih yang paling berilmu dan memenuhi syarat-syarat yang sahih.
Catatan untuk pembaca
Di laman ini kita akan menempatkan tautan laman resmi marja'marja' — sebutan ‘MAR-ja’ — المرجع Dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, marja' ialah faqih yang sangat berkelayakan yang boleh dirujuk oleh orang beriman tentang hukum agama praktikal; pejabatnya menjawab soalan dan menerbitkan panduan undang-undang. agung, dan kepada pembaca kita anjurkan untuk meneliti sendiri dan bertanya kepada para ahli, supaya mengikuti marja'marja' — sebutan ‘MAR-ja’ — المرجع Dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, marja' ialah faqih yang sangat berkelayakan yang boleh dirujuk oleh orang beriman tentang hukum agama praktikal; pejabatnya menjawab soalan dan menerbitkan panduan undang-undang. yang paling berilmu dan memenuhi syarat syar’i serta ilmiah yang membersihkan diri dan menjamin kebenaran jalannya konstitutif dan rohani di hadapan TuhanTuhan — sebutan ‘al-LAH’ — الله Allah bermaksud Tuhan; bukan nama tuhan yang berbeza. Muslim menggunakan kata Arab ini untuk Tuhan Yang Esa; Kristian dan Yahudi berbahasa Arab juga memakainya apabila berbicara tentang Tuhan..
fiqh bukan sistem nilai sekolah untuk pahala dan dosa, melainkan rekayasa konstitutif yang membentuk roh dan mengangkatnya atau menghalanginya menurut perbuatan.