Penjagaan
Keutamaan Imam Ali (as)
Ayat-ayat wilayah, penyucian, dan mubahalah, serta hadis-hadis Ghadir, Manzilah, Tsaqalain, dan Kota Ilmu, menunjukkan bahwa Imam Ali (as) adalah yang paling utama, paling berilmu, maksum, dan dinaskan setelah Rasulullah (saw).
Pendahuluan
Imam Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) adalah figur sentral paling menonjol dalam sejarah Islam setelah Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).). Umat Islam bersepakat atas keagungan kedudukannya dan ketinggian derajatnya; ia adalah mujahid pertama, umat yang paling berilmu, washi Rasul, dan diri Rasul menurut nas Kitab.
Pemikiran argumentatif dalam kajian ini berangkat dari kaidah rasional dan riwayat yang berpasangan: “buruknya mendahulukan yang lebih rendah atas yang lebih utama”. kepemimpinan yang ditetapkan Tuhankepemimpinan yang ditetapkan Tuhan — dibaca ‘ih-MAA-mah’ — الإمامة Dibaca: Imama. Imamah berarti kepemimpinan dan bimbingan. Di situs ini, istilah ini merujuk pada kelanjutan bimbingan kenabian setelah Nabi (SAW): kedudukan yang ditetapkan Tuhan, melalui Imam (AS), untuk menjaga pesan agama dan menjelaskan maknanya. adalah kepemimpinan ilahi dan perpanjangan fungsi-fungsi kenabian dalam mengelola umat dan menjaga syariat, dan akal menghukumi secara pasti bahwa pemangku jabatan ini harus menjadi umat yang paling agung kesempurnaannya, paling berilmu hukumnya, dan paling suci zatnya, yaitu kemaksuman ('Ismah'Ismah — dibaca ‘IS-mah’ — العصمة Dibaca: Isma. Dalam teologi Syiah, ini berarti perlindungan ilahi dari dosa, kesalahan sengaja, kelupaan yang merusak bimbingan, dan kesesatan. Pada nabi dan Imam, 'ismah menjaga keandalan wahyu dan bimbingan agama.).
Kajian ini bertujuan meleburkan nas, ayat, dan riwayat yang termaktub dalam khazanah Islam bersama, dengan pendokumentasian sumber secara langsung tahap demi tahap, diperkuat argumen akidah dan tafsir para ulama dan peneliti besar, seperti Syaikh Al-Mufid (336–413 H / 948–1022 M), Syaikh Ath-Thusi (385–460 H / 995–1067 M), dan Allamah Ath-Thabathaba’i (1321–1402 H / 1904–1981 M), untuk menjelaskan bagaimana keutamaan dan keistimewaan ini niscaya menghantar pada penetapan keutamaan, kemaksuman, dan penunjukan ilahi dengan imamah.
1. Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Turun tentang Keutamaan Imam Ali (as) dan Petunjuk Kekhalifahannya
Telah turun berkenaan dengan Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) ayat-ayat muhkam, yang masing-masing merupakan tonggak struktural dalam penetapan kesuciannya dan kelayakan maqam kepemimpinannya.
1. Ayat Wilayah
“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah).” [Al-Ma’idah: 55]
Riwayat dan sumber: Ayat ini turun ketika seorang peminta-minta masuk ke masjid sementara Nabi dan kaum muslimin sedang salat, lalu tak seorang pun memberinya sesuatu, sedang Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dalam keadaan rukuk, maka ia memberi isyarat dengan jari kelingkingnya, lalu peminta itu mengambil cincin dan keluar, kemudian Jibril turun membawa ayat ini.
- Al-Wahidi (w. 468 H / 1076 M), Asbab Nuzul Al-Qur’an, hlm. 203.
- Ath-Thabari (224–310 H / 839–923 M), Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Ay Al-Qur’an, jld. 6, hlm. 389.
- As-Suyuthi (849–911 H / 1445–1505 M), Ad-Durr Al-Mantsur fi At-Tafsir bil-Ma’tsur, jld. 3, hlm. 104.
- Syaikh Ath-Thusi (385–460 H / 995–1067 M), At-Tibyan fi Tafsir Al-Qur’an, jld. 3, hlm. 558.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Syaikh Ath-Thusi dalam tafsirnya berpendapat bahwa ayat ini adalah nas yang tegas lagi pasti atas imamah Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.). Sisi argumentasi terletak pada dua titik:
- Penggunaan perangkat pembatasan “innama” yang membatasi wilayah pada Allah, Rasul-Nya, dan Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) yang bersedekah dengan cincin dalam keadaan rukuk berdasarkan kesepakatan.
- Datangnya lafaz “waliyyukum” (penolongmu) dalam bentuk tunggal yang disandarkan pada ketiga pihak sekaligus; wilayah yang tetap bagi Allah dan Rasul-Nya adalah wilayah urusan, pengaturan, dan kekuasaan mutlak. Karena konteks lafal satu, maka wilayah yang ditetapkan bagi Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) adalah wilayah kenabian yang sama dalam kewajiban ketaatan serta kepemimpinan politik dan ruhani.
2. Ayat Penyucian
“Sesungguhnya Allah hanya bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzab: 33]
Riwayat dan sumber: Dari Aisyah (9 SH–58 H / 613–678 M) bahwa Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) keluar mengenakan kain bergaris dari bulu hitam, lalu datanglah Hasan bin Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) maka beliau memasukkannya, kemudian datang Husain (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) maka beliau memasukkannya, kemudian datang Fatimah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) maka beliau memasukkannya, kemudian datang Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) maka beliau memasukkannya, lalu bersabda:
“Sesungguhnya Allah hanya bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya.”
- Muslim bin Al-Hajjaj (204–261 H / 820–875 M), Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ahlulbait Nabi, no. 2424.
- At-Tirmidzi (209–279 H / 824–892 M), Sunan At-Tirmidzi, Kitab Manaqib, Bab Keutamaan Fatimah binti Muhammad (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), no. 3787.
- Allamah Ath-Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, jld. 16, hlm. 311.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Allamah Ath-Thabathaba’i dalam tafsir Al-Mizan menjelaskan bahwa kehendak dalam ayat ini bukanlah kehendak tasyri’, karena taklif bersuci ditujukan kepada seluruh muslimin dan tidak khusus bagi Ahlulbait (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), melainkan ia adalah kehendak tekwini khusus bagi mereka yang menyertai apa yang dikehendaki tanpa penyimpangan. Karena “ar-rijs” mencakup setiap dosa, kesalahan, atau kotoran batin dan lahir, maka menghilangkannya secara total dan membatasi penyucian pada mereka meniscayakan tetapnya kemaksuman mutlak. Imam yang wajib ditaati harus maksum agar dapat menjaga syariat dari penyimpangan dan memimpin umat dengan kebenaran tanpa tergelincir.
3. Ayat Mubahalah
“Barangsiapa membantahmu dalam hal itu setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian mari kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.’” [Ali Imran: 61]
Riwayat dan sumber: Ketika ayat ini turun, Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) memanggil Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), Fatimah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), Hasan (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan Husain (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), lalu bersabda:
“Ya Allah, mereka inilah keluargaku.”
Dan beliau keluar bersama mereka untuk bermubahalah dengan orang Nasrani Najran tanpa yang lain dari umat.
- Muslim, Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), no. 2404.
- At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), no. 3724.
- Allamah Ath-Thabathaba’i, Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur’an, jld. 3, hlm. 224.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Syaikh Al-Mufid berdalil bahwa menjadikan Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) sebagai perwujudan kata “diri kami” (anfusana) adalah keutamaan tertinggi yang diraih manusia; sebab secara rasional mustahil kesatuan diri secara jasmani, maka yang dimaksud adalah kesetaraan dan keserupaan dalam segala kesempurnaan, keutamaan, kemaksuman, dan wilayah umum. Karena Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) adalah makhluk paling utama secara mutlak, maka orang yang menjadi dirinya menurut nas Kitab adalah umat yang paling utama seluruhnya setelah Rasul, dan mendahulukan selainnya atasnya dalam maqam kekhalifahan adalah kezaliman terhadap akal dan dalil.
4. Ayat Tabligh dan Penyempurnaan Agama
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.” [Al-Ma’idah: 67]
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” [Al-Ma’idah: 3]
Riwayat dan sumber: Ayat tabligh turun di Ghadir Khum memerintahkan Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) untuk menyampaikan wilayah Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) kepada manusia, dan setelah pengumuman wilayah dan pengambilan baiat, turunlah ayat penyempurnaan agama dan penyempurnaan nikmat.
- Syaikh Al-Kulaini (sekitar 255–329 H / sekitar 864–941 M), Al-Kafi, jld. 1, hlm. 290.
- Ali bin Ibrahim Al-Qummi (w. setelah 307 H / setelah 919 M), Tafsir Al-Qummi, jld. 2, hlm. 103.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Para peneliti menunjuk keterkaitan konstitusional organik antara kedua ayat; nada tegas ayat tabligh menggantungkan seluruh usaha risalah selama dua puluh tiga tahun pada penyampaian urusan yang menentukan ini:
“Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.”
Dengan turunnya ayat penyempurnaan segera setelah baiat, terbukti secara rasional bahwa imamah adalah puncak risalah dan pencapaian kesempurnaannya, dan bahwa agama tidak sempurna serta nikmat tidak lengkap kecuali dengan penetapan wilayah bagi Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
5. Ayat Hal Ata (Memberi Makan)
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Sambil berkata,) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih darimu.’” [Al-Insan: 8-9]
Riwayat dan sumber: Para mufasir bersepakat bahwa ayat-ayat ini turun berkenaan dengan Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), Fatimah (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), Hasan (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan Husain (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) ketika mereka bernazar berpuasa, lalu bersedekah dengan makanan pokok mereka selama tiga hari berturut-turut kepada orang miskin, yatim, dan tawanan, serta mengutamakan orang lain atas diri mereka.
- Az-Zamakhsyari (467–538 H / 1075–1144 M), Al-Kasysyaf, jld. 4, hlm. 670.
- Syaikh Ath-Thusi, At-Tibyan fi Tafsir Al-Qur’an, jld. 10, hlm. 211.
6. Ayat-Ayat Keutamaan dan Keistimewaan Pengukuhan Lainnya
- Ayat Mawaddah Kerabat:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.’” [Asy-Syura: 23]
Termaktub dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir, no. 4804, dan dalam Al-Kafi, jld. 1, hlm. 187. Argumennya bahwa Allah menjadikan upah risalah sebagai kasih sayang kepada Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dan keluarganya (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), dan upah yang setara dengan keagungan risalah tak lain hanya bagi pihak yang menjamin keselamatan umat dengan mengikuti dan berimamah kepadanya.
- Ayat Ash-Shadiqin:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” [At-Taubah: 119]
Termaktub dalam At-Tibyan karya Syaikh Ath-Thusi, jld. 6, hlm. 298. Argumennya bahwa Allah memerintahkan kebersamaan dan penyertaan mutlak dengan orang-orang yang benar, dan Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) adalah pemuka orang-orang benar yang maksum setelah Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).).
- Ayat Ulil Amri:
“Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” [An-Nisa: 59]
Termaktub dalam Al-Kafi, jld. 1, hlm. 290. Argumennya bahwa Allah menyandingkan ketaatan kepada Ulil Amri dengan ketaatan kepada-Nya dan ketaatan kepada Rasul-Nya tanpa ikatan atau syarat, yang meniscayakan kemaksuman mereka, dan yang teratas di antara mereka adalah Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
- Ayat Nur:
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.” [An-Nur: 35]
Termaktub dalam Tafsir Al-Qummi, jld. 2, hlm. 103. Argumennya bahwa pelita melambangkan cahaya ilmu dan hidayah yang terjelma dalam Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dan para imam (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dari itrahnya yang maksum.
2. Hadis-Hadis Nabawi tentang Imamah Imam Ali (as) dan Keutamaannya
Riwayat-riwayat nabawi yang mulia telah mutawatir untuk menjelaskan dimensi politik dan ruhani yang terpendam dalam pribadi Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
1. Hadis Ghadir
“Wahai manusia, bukankah aku lebih utama atas kalian daripada diri kalian sendiri?”
Mereka menjawab: “Benar, wahai Rasulullah.”
“Maka barangsiapa yang aku maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya dan musuhilah siapa yang memusuhinya, tolonglah siapa yang menolongnya dan hinakanlah siapa yang menghinakannya.”
Riwayat dan sumber: Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) menyampaikannya dalam kerumunan Haji Wada’ di Ghadir Khum setelah turunnya ayat tabligh dan pengambilan baiat dari seluruh kaum muslimin.
- At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), no. 3713.
- Ibnu Katsir (701–774 H / 1301–1373 M), Al-Bidayah wan-Nihayah, jld. 5, hlm. 227.
- Al-Kulaini, Al-Kafi, jld. 1, hlm. 292.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Syaikh Al-Mufid dalam Awa’il Al-Maqalat membongkar syubhat-syubhat yang berupaya membatasi lafaz “maula” pada pencinta atau penolong; ia mengajukan dalil-dalilnya secara rasional:
- Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) menyandingkan wilayah Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dengan keutamaannya atas diri:
“Bukankah aku lebih utama atas kalian daripada diri kalian sendiri?”
Keutamaan atas diri adalah kekuasaan mutlak dan wilayah umum.
- Datangnya “fa” (maka) fasih yang langsung:
“Maka barangsiapa yang aku maulanya.”
mengharuskan pengalihan makna keutamaan dan kekuasaan yang disebut di awal kalimat kepada Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.).
- Konteks waktu dan tempat, yakni mengumpulkan ratusan ribu orang di teriknya siang, secara rasional tak mungkin bertujuan sekadar menjelaskan kecintaan, melainkan merupakan pengumuman konstitusional resmi atas penunjukan dan kekhalifahan.
2. Hadis Manzilah
“Engkau bagiku laksana kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.”
Riwayat dan sumber: Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) mengucapkannya kepada Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) saat menjadikannya pengganti atas Madinah dalam Perang Tabuk.
- Al-Bukhari (194–256 H / 810–870 M), Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Manaqib Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.), no. 3706.
- Muslim, Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat, no. 2404.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Para ulama akidah menjelaskan bahwa hadis ini menetapkan bagi Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) seluruh kedudukan Harun terhadap Musa yang disebut dalam Al-Qur’an, seperti pembantuan, penguatan, perkongsian dalam urusan, dan kekhalifahan umum dalam ketiadaan, serta mengecualikan darinya hanya “kenabian” karena terputusnya wahyu. Pengecualian dengan lafaz adalah dalil pasti atas tetapnya seluruh kewenangan, wilayah pengaturan, politik, dan imamah bagi Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) setelah ketiadaan Rasul (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).).
3. Hadis Tsaqalain
“Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian dua peninggalan berat: Kitab Allah dan itrahku Ahlul Baitku. Selama kalian berpegang pada keduanya, kalian tak akan tersesat sepeninggalku selamanya, dan keduanya tak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga (haudh).”
Riwayat dan sumber: Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) menyampaikannya di berbagai tempat sebagai penegasan atas rujukan maksum sepeninggalnya.
- At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ahlulbait Nabi, no. 3788.
- Al-Hakim An-Naisaburi (321–405 H / 933–1014 M), Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, jld. 3, hlm. 124.
- Al-Kulaini, Al-Kafi, jld. 1, hlm. 294.
Argumen dan tafsir para ulama umat: Syaikh Al-Mufid dalam tulisan-tulisannya berdalil bahwa hadis ini menetapkan dua perkara yang tak terpisahkan:
- Kemaksuman: Persandingan itrah dengan Al-Qur’an dalam satu kalimat dan penegasan penuh bahwa keduanya “tak akan berpisah” menunjukkan kemaksuman Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dan keluarganya (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.); sebab Al-Qur’an maksum dari kebatilan, dan siapa yang disandingkan dengannya serta tak berpisah darinya dalam perkara kecil maupun besar harus maksum sepertinya; jika tidak, niscaya terjadi perpisahan dan kesesatan saat keluar kesalahan apa pun.
- Kewajiban mengikuti dan imamah: Menjadikan keselamatan dari kesesatan terbatas pada berpegang kepada Al-Qur’an dan itrah bersama-sama berarti mewajibkan ketaatan kepada Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dan imamahnya sebagaimana wajibnya ketaatan kepada Kitab secara persis.
4. Hadis Kota Ilmu
“Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya, maka siapa yang menghendaki ilmu hendaklah ia mendatangi pintunya.”
Riwayat dan sumber: Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) mengucapkannya seraya menjelaskan rujukan pemikiran dan fikih yang mutlak bagi umat.
- Al-Hakim An-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, jld. 3, hlm. 126.
- Adz-Dzahabi (673–748 H / 1274–1348 M), Siyar A’lam An-Nubala, jld. 2, hlm. 378.
Argumen dan tafsir: Akal menghukumi keharusan khalifah dan imam setelah Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) adalah yang paling berilmu agar dapat menepis syubhat dan memutus dengan hukum Allah. Pembatasan ilmu nabawi pada Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) menetapkan keutamaan keilmuannya yang mutlak, dan mendahulukan yang lebih rendah ilmunya atas yang paling berilmu adalah buruk lagi mustahil dalam hikmah ilahi.
5. Hadis-Hadis Keistimewaan dan Sentralitas Mutlak
- Hadis Kebenaran:
“Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali, ia berputar ke mana pun Ali berputar.”
Termaktub dalam Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain karya Al-Hakim An-Naisaburi, jld. 3, hlm. 124. Argumennya bahwa ia menunjukkan keterkaitan zati dan kemaksuman, sebab kebenaran berputar dalam orbit Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) baik ucapan maupun perbuatan.
- Hadis Timbangan Keimanan:
“Tidak mencintaimu kecuali mukmin, dan tidak membencimu kecuali munafik.”
Termaktub dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan bahwa Iman itu dengan Hati dan Lisan, no. 78, dan dalam Syarah An-Nawawi (631–676 H / 1233–1277 M) atas Shahih Muslim, jld. 2, hlm. 54.
- Hadis Panji pada Hari Khaibar:
“Sungguh esok akan kuberikan panji ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai Allah dan Rasul-Nya, penyerang yang tak pernah lari, Allah akan menaklukkan (benteng) di tangannya.”
Termaktub dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Sahabat, no. 3706.
3. Bangunan Argumentatif yang Tersusun
Keutamaan-keutamaan saling menyempurnakan dalam sistem logis yang berkelindan yang niscaya menghantar pada penetapan maqam imamah ilahi bagi wali Allah Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.):
Keutamaan mutlak → Kemaksuman → Penunjukan dan Imamah.
Tonggak Pertama: Dalil-Dalil Keutamaan Mutlak atas Para Sahabat
Dalam ilmu dan peradilan: Para sahabat bersepakat atas ketidakmampuan dan kembali kepada Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dalam persoalan-persoalan pelik. Dalam lipatan sejarah termaktub secara mutawatir ucapan-ucapan seperti perkataan masyhur Umar bin Al-Khaththab (40 SH–23 H / 584–644 M):
“Seandainya tidak ada Ali, niscaya binasalah Umar.”
Dan ucapannya:
“Aku berlindung kepada Allah dari persoalan pelik yang tak ada Abul Hasan (Ali) untuknya.”
Tidak pernah dinukil bahwa Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) bertanya kepada seorang sahabat atau mengatakan “aku tidak tahu”, melainkan ia adalah tumpuan semua orang, dan yang paling berilmu adalah yang paling berhak atas imamah secara rasional.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (773–852 H / 1372–1449 M), Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, jld. 7, hlm. 498.
Kedahuluan dan jihad kosmik: Dialah orang pertama yang masuk Islam dan salat, dan tak pernah sujud kepada berhala sama sekali, karena itu ia dikhususkan dengan ungkapan “karramallahu wajhah” (semoga Allah memuliakan wajahnya), sementara selainnya menghabiskan sebagian hidup mereka dalam kemusyrikan. Dalam jihad, ia adalah pahlawan Islam yang tak tertandingi; ia membunuh separuh kaum musyrikin Badar, teguh pada hari Uhud dan Hunain ketika semua orang berpaling melarikan diri, dan membunuh Amr bin Wudd Al-Amiri pada hari Khandaq, yang tentangnya Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) bersabda:
“Tebasan Ali pada hari Khandaq setara dengan ibadah jin dan manusia (ats-tsaqalain).”
- Ibnu Al-Atsir (555–630 H / 1160–1233 M), Al-Kamil fi At-Tarikh, jld. 1, hlm. 586.
- Ibnu Hisyam (w. 218 H / 833 M), As-Sirah An-Nabawiyah, jld. 2, hlm. 278.
Tonggak Kedua: Dalil Rasional yang Berkelindan dengan Kemaksumannya
Berdasarkan apa yang telah dikemukakan secara riwayat dari ayat penyucian dan hadis Tsaqalain, akal menuntun kita langsung pada keniscayaan imamahnya melalui argumen kelembutan (luthf): umat secara keseluruhan tidak maksum, dan para sahabat tidak maksum berdasarkan pengakuan mereka atas keterjatuhan mereka pada kesalahan. Karena imam adalah rujukan umat dan pemimpinnya, seandainya boleh terjadi kesalahan atau maksiat padanya, niscaya ia memerintahkan kepada kesalahan, dan ketika itu umat jatuh dalam kontradiksi antara kewajiban mengikuti imam dan keharaman mengikuti kesalahan. Karena Allah tidak mensyariatkan kontradiksi, maka imam harus maksum. Dan karena kemaksuman tetap bagi Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dan ia sendirian dengannya, maka tertentukanlah imamahnya dan batallah imamah selain yang maksum.
- Syaikh Al-Mufid, Awa’il Al-Maqalat, hlm. 40.
Tonggak Ketiga: Penunjukan Ilahi, Nas, dan Wasiat
Imamah adalah jabatan ilahi yang tidak tunduk pada hawa nafsu musyawarah atau pilihan manusia yang terbatas, melainkan dengan penetapan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) telah menaskan Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) sejak fajar risalah hingga akhirnya.
Hadis Ad-Dar (Hari Peringatan): Ketika turun firman Allah Ta’ala:
“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.”
Nabi (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) mengumpulkan mereka seraya bersabda sambil memegang leher Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.):
“Sesungguhnya ini adalah saudaraku, washiku, dan khalifahku di tengah kalian, maka dengarkanlah dan taatilah dia.”
- Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, jld. 5, hlm. 227.
Peristiwa Ghadir yang Disaksikan: Penobatan resmi umum dan terakhir dengan perintah ilahi yang menentukan agar Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) menjadi imam bagi kaum muslimin dan amir bagi kaum mukmin.
Penutup
Dari penelusuran menyeluruh dan cermat ini menjadi jelas bahwa keutamaan yang dinisbahkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) dalam ayat-ayat muhkam dan riwayat sunah yang mutawatir bukanlah keutamaan sampingan atau pujian sekunder, melainkan dalil-dalil objektif yang bangunannya saling bertautan.
Keunggulan ilmu, kedahuluan, dan jihad menetapkan keutamaan mutlak. Ayat penyucian, hadis Tsaqalain, dan keterkaitan dengan kebenaran menetapkan kemaksuman. Ayat wilayah, Ghadir, Manzilah, dan Ad-Dar menetapkan penunjukan dan nas ilahi yang tegas.
Berdasarkan itu, keterkaitan rasional dan riwayat membuktikan secara pasti bahwa Imam Ali (ASAS — dibaca ‘alayhi as-salaam’ — عليه السلام Singkatan dari ungkapan Arab 'alayhi / 'alayha / 'alayhim as-salam, yaitu damai atasnya / mereka. Dipakai setelah menyebut para nabi, para Imam, Sayyidah Fatimah, dan Ahl al-Bayt sebagai tanda hormat.) adalah imam yang ditunjuk dan khalifah sah Rasulullah (SAWSAW — dibaca ‘sal-lal-LAAH-u alayhi wa aalih’ — صلى الله عليه وآله Singkatan dari salawat untuk Nabi Muhammad: semoga damai dan berkah tercurah kepadanya dan keluarganya. Ungkapan ini dipakai sebagai bentuk hormat setelah menyebut Nabi Muhammad (SAW).) secara langsung, dan bahwa pendapat mendahulukan yang lebih rendah atas yang lebih utama atau mendahulukan yang tak maksum atas yang maksum dibatalkan oleh akal dan nas secara keseluruhan dan terperinci.
Keutamaan Imam Ali (as) bukanlah keutamaan sampingan, melainkan dalil-dalil yang saling bertautan atas keutamaan, kemaksuman, dan penunjukan ilahi dengan imamah.